Thursday, September 8, 2005

Arti sebuah nama

Ody Sayang, tahukah kamu apa arti dari namamu? Sesungguhnya Ayah yang bersikeras untuk memberi nama Odisseus. Ada kisah di balik ini. Tapi sebelumnya, Ibu ingat satu cerita Ayah mengenai respon seorang temannya saat teman tersebut diberi kabar bahwa ayah memberi nama kepadamu Odisseus. Teman itu bilang, “Wah nanti anak keduanya bernama Karimun donk”. Kalau di Jakarta mungkin kita bisa menemukan merek mobil Jepang Honda Odyssey, itulah mengapa teman tersebut mencandai Ayah bahwa nanti anak keduanya akan diberi nama Karimun, salah satu merek mobil Jepang lainnya. Bagaimanapun, itu hanyalah gurauan seorang teman.

 

Namun kisah di balik itu semua ternyata mengandung filosofi dari kisah dari mitologi Suku Bugis (dari mana Ayah berasal) dan Bangsa Yunani. Bangsa Yunani memiliki kisah mitologi Odyssey (Odisseus dalam Bahasa Indonesia), mitologi ini ditulis oleh Homer (semoga Ibu tidak salah), Homer juga menulis kisah Perang Troya/The Illiad (semoga Ibu tidak salah juga). Tokoh utama dalam mitologi ini adalah Odysseus, seorang raja di negeri Ithaca, Yunani. Raja ini sangat cinta pada rakyat dan keluarganya, Raja Odysseus memiliki seorang putra (sayang Ibu lupa namanya). Alkisah (Ibu sulit menemukan padanan kata untuk kata “alkisah” ini jadi mungkin tata bahasa Ibu mulai terdengar seperti seorang pendongeng) Raja Odysseus melakukan banyak perjalanan dan peperangan, sampai satu saat ia melakukan satu kesombongan kepada Dewa Poseidon. Dewa ini mengutuk Raja Odysseus sehingga ia tidak mampu menemukan jalan untuk kembali pulang ke negerinya setelah melakukan perjalanan perang. Odysseus terombang-ambing di lautan, daratan, dan dihadang oleh alam untuk dapat kembali. Hal ini berlangsung bertahun-tahun lamanya sehingga meresahkan rakyat, istri dan anaknya yang mulai beranjak dewasa. Sampai kemudian dengan kerendahan hatinya Odysseus menyadari kesalahannya sehingga diizinkan untuk kembali ke negerinya dengan menjalani suatu tantangan. Ia disambut gembira oleh anak dan Penelope istrinya yang setia menanti dan senantiasa menjaga kehormatannya sebagai istri.

 

Sementara itu, kisah di belahan bumi timur Nusantara sekitar abad 13 (Ayah, am I right? Remind me if I’m wrong) lahir sebuah kisah mitologi Suku Bugis, kisah ini berjudul I La Galigo (mungkin Ody sering sekali mendengar judul ini, karena beberapa tahun terakhir kisah mitologi Bugis ini diangkat ke pentas teater oleh seorang sutradara terkenal dunia (Robert Wilson, link to: www.changeperformingarts.it/Wilson/galigo.html) dan dipentaskan di Esplanade Singapura, dan sejak itu melakukan pentas keliling dunia, dan sejak saat itu pun buku-buku dan kisah mengenai mitologi Bugis I La Galigo menjadi laris dan ramai diperbincangkan oleh orang-orang di Indonesia dan dunia).

 

Konsep dasar kisah ini dengan mitologi Yunani memiliki beberapa kesamaan , yakni mengenai kisah seorang Raja di suatu negeri (www.balipurnati.com/ the-bali-purnati/current-projects.htm). Di Bugis, Raja itu bernama Sawerigading, dan memiliki seorang anak bernama I La Galigo. Tokoh sentral dalam mitologi ini sama-sama seorang raja, namun terdapat perbedaan dalam pemberian judul mitologi. Dalam mitologi Bugis, judul yang diambil adalah nama sang anak. Kisah lengkapnya, Ayah yang akan menceritakan kepada Ody. Bukunya ada di rumah di ruang kerja Ayah. Ibu pernah memcoba membacanya namun tidak berhasil menyelesaikannya. Buku terakhir yang diberikan oleh Ayah sebelum Ibu berangkat ke Belanda adalah kumpulan syair/puisi (?) mengenai kisah kelahiran I La Galigo, buku ini bilingual (dua bahasa) dan merupakan terjemahan yang dilakukan oleh Sapardi Djoko Damono dan timnya untuk menerjemahkan Bahasa Lontara ke Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Menarik sekali isinya, dan sepertinya buku ini sekarang tersimpan di ruang kerja Ayah.

 

Oya, ada satu hal menarik, jika mitologi Odyssey digambarkan berada di Negeri Ithaca, Yunani (sekarang nama Ithaca menjadi nama kota di mana universitas terkenal di Amerika, Cornell University berada), sementara itu mitologi I La Galigo digambarkan berada di Negeri Luwu, Ibu rasa itu berada di sekitar wilayah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sekarang berada. Luwu merupakan Kerajaan Bugis dengan wilayah terbesar, sampai sekarangpun Kabupaten Luwu masih memiliki wilayah yang luas, namun sudah terbagi menjadi beberapa kabupaten pecahan saat otonomi daerah berlangsung. Uniknya, pada saat Ibu mengandung Ody sekitar 7 atau 8 minggu (pada saat itu Ibu belum menyadari kalau Ibu sedang mengandung Ody di rahim Ibu), Ibu melakukan perjalanan tugas ke Luwu untuk studi dampak ekonomi PT INCO, Sorowako, Luwu. Ibu bersama dengan Mbak Fauziah (sekarang beliau di Jepang untuk studi S3-nya), Syarif, dan Mas Uka, sebagai tim LPEM FEUI.

 

Mungkin itulah mengapa akhirnya Ibu dengan berat hati mengizinkan Ayah memberi nama depan Odisseus (dalam Bahasa Indonesia) untukmu Nak. Semula Ibu ingin memberimu nama Muhammad Al Fatih, seorang pahlawan Islam yang sangat Ibu kagumi kecerdasan dan kepemimpinannya di usia yang masih sangat muda ia berhasil merebut Kota Konstantinopel (Byzantium, Ibu Kota Kerajaan Romawi Timur) dari tangan kaum Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan penuh taktik cerdas dan cara yang damai, ia tidak melukai wanita, orang tua, dan anak-anak. Akhirnya dengan kesepakatan Ayah dan Ibu, nama Alfatih dijadikan nama tengahmu (tidak memisahkan antara kata “Al” dan “Fatih”), yang merupakan Bahasa Arab dan memiliki makna Sang Pemenang atau Pembuka Jalan, sehingga namamu adalah Odisseus Alfatih Panennungi. Kisah Alfatih ini akan Ibu ceritakan secara lengkap padamu di lain waktu dan nanti kita sama-sama tonton filmnya.

 

Naskah asli mitologi I La Galigo tertulis dalam kertas lontar sepanjang sekitar 1300 halaman (Ayah, Ibu sudah benar belum mengutip kata-kata Ayah?), tapi seingat Ibu jumlahnya lebih dari itu, Ayah yang dapat memberi tahu lengkapnya. Ditulis dengan huruf Bugis yang disebut “Lontara”, dan sampai sekarang masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Hal ini juga menarik, karena ini Ibu jadikan ide untuk menulis esai Ibu tentang “Mengapa Memilih Studi di Belanda?” yang disyaratkan oleh NEC. Terus terang Ibu bilang, bahwa Ibu mau melihat peninggalan sejarah yang sangat berharga dan penting, yakni naskah asli I La Galigo. Ibu akan menyempatkan diri untuk itu. Selamat istirahat Sayang, tidurlah dengan nyenyak, Ibu dan Ayah akan selalu berdoa kepadamu, dan Allah tidak akan pernah lalai menjagamu.

Posted by Odisseus\' Mom in 08:43:45
Comments

Comments are closed.